Tim gabungan peneliti Amerika-Prancis menemukan sebuah planet yang
terbuat dari berlian. Ini bukan mengada-ada, sebagian besar susunan
materi planet yang diberi nama '55 Cancri e' itu terdiri dari berlian.
Ketua
tim peneliti dari Yale University, Nikku Madhusudhan, mengatakan, '55
Cancri e' berukuran dua kali lebih besar dengan massa delapan kali lipat
dari Bumi. Planet itu terletak di konstelasi Cancer, sekitar 40 juta
tahun cahaya dari Bumi.
Para astronom sejatinya telah mendeteksi
planet ini sejak tahun lalu. Pendeteksian itu kemudian dilanjutkan
dengan observasi oleh tim peneliti terhadap radius dan massa planet
untuk menentukan sususan kimianya.
"Permukaan planet itu lebih
mungkin berupa grafit dan berlian daripada berupa air dan granit," kata
Madhusudhan seperti dilansir AFP, Jumat (12/10).
Lebih
lanjut, '55 Cancri e' bergerak mengelilingi sebuah bintang yang disebut
'55 Cancri'. Jarak antara keduanya relatif dekat sehingga satu kali
revolusi (satu tahun) hanya membutuhkan waktu 18 jam. Akibat jaraknya
yang relatif dekat dengan bintangnya, suhu '55 Cancri e' sangat panas.
Temperatur diperkirakan mencapai rata-rata dua ribu derajat celcius.
Sumber : Republika online
“Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani,
kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). Dan
tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan
melainkan dengan sepengetahuan-Nya.”
“Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang
dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam
Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah
mudah.” (QS. Fathir: 11).
Dalam ayat di atas, Allah SWT memberi penegasan bahwa hidup manusia
di dunia adalah suatu proses panjang yang sudah tertulis dan diabadikan
dalam lauh mahfudz. Dari proses penciptaan, lahirnya ke dunia, tumbuh
dewasa hingga menunggu kapan panggilan-Nya menyapa.
Dalam tiap fase kehidupan itulah Allah menganugerahkan fasilitas
gratis yaitu umur yang nilainya takkan sebanding dengan apa pun.
Terlebih jika umur itu dikerahkan untuk melakukan hal-hal terbaik untuk
Allah juga sesama guna menghadapi pertemuan dengan-Nya kelak.
Pertemuan dengan Allah diawali dengan berakhirnya jatah usia manusia
di alam dunia. Sebagaimana kita tahu, kematian tidak dapat dipercepat
apalagi ditangguhkan. Sejauh apa pun kaki melangkah, setinggi apapun
benteng tempat persembunyian, seterpencil manapun kita hijrah ke suatu
negeri, tetap ada fase kehidupan yang tidak bisa kita hindari; kematian.
Kematian bak final dari setiap perlombaan yang kita ikuti selama di
dunia—hanya saja, perlombaan untuk berbuat hasanah atau maksiat—itu
diserahkan sepenuhnya kepada hamba itu sendiri. Sebab hidup ialah
memilih. Jalan mana yang semestinya kita pilih, harus dipertimbangkan
secara matang agar penyesalan tidak timbul di kemudian hari.
Sejatinya, setiap insan ‘tahu’ bahwa dirinya akan mati dan kembali
kehadirat Ilahi Rabbi, namun amat disayangkan, bekal untuk menghadapi
sesuatu yang amat besar itu sering diabaikan. Persiapan menghadapi
kehidupan yang sebenarnya perlu disiapkan dengan berbagai amalan yang
berbuah pahala dan ridha Allah, tanpa perlu menyampingkan
kewajiban-kewajiban duniawi.
“Orang yang terbaik di antara kamu bukanlah orang yang meninggalkan
dunianya untuk akhirat dan yang meninggalkan akhiratnya untuk dunianya.
Sesungguhnya, dunia ini ialah bekal ke akhirat dan janganlah kamu
menjadi beban atas manusia.” (HR Ibnu Asakir)
“Perbanyak mengingat kematian,” begitu Rasulullah SAW memberikan
anjuran kepada umatnya. Sebab, dengan mengingat kematian, kikislah
perasaan tamak terhadap harta, tahta, dan cinta yang berlebih kepada
sesama. Kesadaran penuh akan makna kematian, jika sudah menusuk ke
relung hati, juga akan menghadirkan perasaan cukup (qanaah) dan
penyerahan diri secara total kepada Allah (tawakal).
Jika kita sepakat bahwa semua milik Allah (Inna Lillah) serta semua
akan kembali kepada Allah (Ilaihi Raji’un), maka nampaknya sudah jelas
tugas kita di dunia. Rezeki, kematian, jodoh, semua sudah dirancang
sedemikian rapi oleh Allah, namun dengan tetap berikhtiar kepada-Nya.
Kalau kita mau berpikir jernih, sebenarnya tidak ada takdir buruk
untuk manusia, yang ada hanyalah manusia itu sendiri yang belum melihat
sisi baik dari setiap cobaan dalam tahap-tahap kehidupan. Juga tidak ada
takdir yang tidak sejalan antara apa yang ditetapkan Allah dengan apa
yang kita inginkan.
Jika umur adalah amanah Allah, maka Allah jualah yang akan mengambil
titipannya—sesuai waktu yang masih menjadi rahasia-Nya. Tetapkan rasa
syukur jika mendapatkan apa yang kita kehendaki, dibarengi dengan rasa
sabar jika apa yang kita kehendaki, belumlah Dia wujudkan hingga saat
ini. Dengan syukur dan sabar, maka hidup semakin berarti. Wallahu a’lam.